Sabtu, 21 Juni 2014

Tanda Jasa

Tanda Jasa
Mettacittena/Upa

Tanda Jasa bukan dilihat dari jabatanmu
Kedudukanmu..
Besar gajimu....
Besar kekayaanmu...

Tapi Tanda Jasa yang lebih besar dan tumpuan harapan orang banyak adalah mampu menerima apa adanya..
Berjiwa besar, dan tindakannya besar
Mampun memberi perlindungan bagi rakyat
Mensejahterakan rakyat..
mendamaikan dan peduli sesama.
Inilah rasa Cinta Damai, Cinta Universal
Tanpa kedengkian, tanpa permusuhan

Tiada dusta, tiada murka...
Bila berduka pasti disisinya ada
Sebab ia memiliki Rasa Cinta di Dada
Inilah Tanda Jasa yang kita cipta.

Senin, 31 Maret 2014

Tanha, Akar Kejahatan dan Peletakkan!

Di ibaratkan seperti dua ekor lembu. Lembu hitam dan lembu putih, yang masing-masing diikat disatu tiang yang tunggal. Tiang pengikat lembu hitam dan lembu putih ini diibaratkan seperti TANHA (nafsu keinginan). Tanha, merupakan sebab dari ketidak-puasan manusia. Dengan adanya tanha akan membuat manusia berkeluh kesah, resah dan batinnya mengalami ketidak-nyamanan.
Pengukuhan, pemadaman nafsu keinginan, adalah peletakkan beban. Meski untuk meletakkan beban tidak mudah, dibutuhkan proses yang cukup panjang. Saling berbagi adalah dasar awal dalam melatih pelepasan. Pelepasan bukan berarti hilang namun bertambahnya kebajikan.


Mettacittena/Upa

Kebenaran dan kebaikan!

Meski semua orang tahu bahwa kebenaran pasti akan datang terhadap kita. Kebenaran ada dua macam. Kebenaran konvensional dan kebenaran hakiki. Pahit-manisnya perjalanan kehidupan ini telah kita lewati. Yang perlu kita sadari bahwa kehidupan ini sangat membutuhkan pemahaman yang mendalam bukan sekadar berlogika atau mempunyai pemahaman intelektual semata. Alangkah baiknya dibutuhkan pemahaman emosional dan rasional/logika yang seimbang. Mengapa demikian? Sebab, kehidupan manusia akan dihadapkan pada kebenaran hakiki seperti usia tua, kesakitan dan kematian.
Tanpa pemahaman yang seimbang (antara emosi dan rasional), kita akan menjadi BUTA. Efeknya adalah mudah gelisah, sedih, resah dsb.
Di samping itu pula, KEBAIKAN perlu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kebaikan ini sangat penting dan memiliki potensi untuk tidak memunculkan perbuatan buruk. Tatkala ketika kita meninggal, kebaikan yang telah kita perbuat akan menjadi pendorong serta mengkondisikan gambaran pikiran menjadi baik saat meninggal. Jadi, jangan sia-siakan waktu dan kesempatan dalam KEBAIKAN.


Mettacittena/Upa

ETIKA HIDUP DAN KEBAIKAN!!!

Manusia pada dasarnya memiliki etika. Waktu kita di SD, guru telah mengajarkan tentang PPKN, yang di dalamnya mengajarkan kesopanan, tata krama, aturan, dan disiplin diri. Moral ini adalah sebuah benteng yang melandasi perilaku manusia dari sifat yang buruk. Tatkala tidak menjalankan aturan maka semua landasan kebaikan akan dilanggar. Tanpa nilai-nilai moral, kehidupan akan berada dalam bahaya. Namun, kita manusia yang belum sempurna hendaknya selalu mengembangkan moralitas dengan benar.
Menjadi orang baik dan mempertahankan kebaikan yang telah diperoleh sangatlah sulit dibandingkan melakukan tindakan kriminal. Melakukan kebaikan dibutuhkan seorang pembimbing dan melakukan keburukan tanpa guru bisa jadi dan murka.
Dimanakah orang baik itu?
Kebiasaan baik sangat sulit dilakukan, kebiasaan buruk sangat mudah dilakukan. Kebaisaan baik walaupun sulit, ia selalu menemani kita kemana kita akan pergi (sahabat sejati), kebiasaan buruk sungguh mudah dilakukan namun sungguh sulit menjadi teman baik kita.
Orang baik sesungguhnya tidak ada diluar diri kita tetapi orang baik ada di dalam diri kita.
Apa sesungguhnya yang harus kita lakukan dalam hidup ini?
Tiada lain yang harus kita jalankan adalah mengembangkan kebiasaan baik. Bisa dengan cara beramal, sharing dhamma, mendengarkan dhammadesana, menjalankan uposatha sila dan selalu menjernihkan pikiran sendiri.
selalu berusaha mengendalikan diri dari sifat buruk dalam kehidupan sehari-hari sebab memiliki pengendalian seperti membuat pagar untuk melindungi rumah kita dari ancaman pencurian dan perampokan.

Mettacittena/UpaJ


Minggu, 26 Januari 2014

DHAMMACAKKAPPAVATTANA SUTTA


Khotbah Pemutaran Roda Dhamma
Samyutta Nikaya LVI:11

1.  Dibabarkan oleh sang Buddha di Taman Rusa, Isipatana, Kota Benares, kepada 5 orang pertapa : Assajji, Vappa, Bhadiya, Kondanna, Mahanama

2. Ada dua hal ekstrim yang patut ditinggalkan, yaitu:
Mengikuti kesenangan nafsu
Melakukan penyiksaan diri

3.  Kedua hal ekstrim di atas dihindari, dan digantikan dengan Jalan tengah (Majjhima Patipada), yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariyo Atthangiko Maggo): 

Samma ditthi (berpengertian benar)
Samma sankappo (berpikiran benar)
Samma vaca (berkata benar)
Samma kammanto (bertindak benar)
Samma ajivo (berpenghidupan benar)
Samma vayamo (berupaya benar)
Samma sati (berperhatian benar)
Samma samadhi (berkonsentrasi benar)

Jumat, 24 Januari 2014

Kata-kata Motivasi dan inspiratif


Selama kita mau untuk maju,
Apapun itu bentuknya, selama kita mau berusaha dan bersabar
Impian kita pasti bisa terwujud

[Hendra]

Prinsip yang kokoh adalah tidak memiliki cara berpikir plin plan.
Selalu berdisiplin, dan melihat tujuan yang sebenarnya.

[Hendra]

Ingat budi baik orang yang berjasa
Tat kala kita susah senang, mereka selalu ada di dekat kita
Itulah sikap orang yang ‘TAHU DIRI’.

[Hendra]

Kebanggaan terbesar dalam hidup adalah tercapai cita-cita
Tidak ada perkelahian/pertengkaran adalah kedamaian.

[Hendra]




Jumat, 03 Januari 2014

Lima Macam Vassi dan Abhiñña



Lima Macam Vassi
Vasi berarti keahlian atau kemahiran atau kemampuan untuk mengolah jhana.
Kelima macam vasi tersebut adalah:
1. Avajjana-vasi, yaitu keahlian dalam pemikiran untuk memasuki jhana menurut kehendaknya
2.      Samaajjana-vasi, yaitu keahlian dalam memasuki jhana
3.  Adhitthana-vasi, yaitu keahlian dalam menentukan berapa lama hendak berada dalam jhana.
4.      Vatthana-vasi yaitu, keahlian dalam keluar dari jhana.
5.      Paccavekkhana-vasi, yaitu keahlian dalam peninjauan terhadap jhana.

Jhana



Jhana berarti kesadaran atau pikiran yang memusat dan melekat kuat pada objek.
Ada juga istilah lain, kammathana/meditasi, yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada objek dengan kekuatan appana-samadhi (konsentrasi yang mantap, yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada objek dengan kuat).

Faktor-faktor jhana
Faktor-faktor jhana ada lima macam
1.      Vittaka, ialah penopang pikiran yang merupakan perenungan permulaan untuk memegang objek.
2.      Vicara, ialah gema pikiran, keadaan pikiran dalam memegang objek dengan kuat.
3.      Piti, ialah kegiuran atau kenikmatan.
4.      Sukha, ialah kebahagiaan yang tidak terhingga.
5.      Ekaggata, ialah pemusatan pikiran yang kuat.