Tanda Jasa
Mettacittena/Upa
Tanda Jasa bukan dilihat dari jabatanmu
Kedudukanmu..
Besar gajimu....
Besar kekayaanmu...
Tapi Tanda Jasa yang lebih besar dan tumpuan harapan orang banyak adalah mampu menerima apa adanya..
Berjiwa besar, dan tindakannya besar
Mampun memberi perlindungan bagi rakyat
Mensejahterakan rakyat..
mendamaikan dan peduli sesama.
Inilah rasa Cinta Damai, Cinta Universal
Tanpa kedengkian, tanpa permusuhan
Tiada dusta, tiada murka...
Bila berduka pasti disisinya ada
Sebab ia memiliki Rasa Cinta di Dada
Inilah Tanda Jasa yang kita cipta.
Kebahagiaan yang paling mendamaikan dalam hidup adalah mampu menguasai dan mengalahkan diri sendiri.
Sabtu, 21 Juni 2014
Senin, 31 Maret 2014
Tanha, Akar Kejahatan dan Peletakkan!
Di
ibaratkan seperti dua ekor lembu. Lembu hitam dan lembu putih, yang
masing-masing diikat disatu tiang yang tunggal. Tiang pengikat lembu hitam dan
lembu putih ini diibaratkan seperti TANHA (nafsu keinginan). Tanha, merupakan
sebab dari ketidak-puasan manusia. Dengan adanya tanha akan membuat manusia
berkeluh kesah, resah dan batinnya mengalami ketidak-nyamanan.
Pengukuhan,
pemadaman nafsu keinginan, adalah peletakkan beban. Meski untuk meletakkan
beban tidak mudah, dibutuhkan proses yang cukup panjang. Saling berbagi adalah
dasar awal dalam melatih pelepasan. Pelepasan bukan berarti hilang namun
bertambahnya kebajikan.
Mettacittena/Upa
Kebenaran dan kebaikan!
Meski
semua orang tahu bahwa kebenaran pasti akan datang terhadap kita. Kebenaran ada
dua macam. Kebenaran konvensional dan kebenaran hakiki. Pahit-manisnya
perjalanan kehidupan ini telah kita lewati. Yang perlu kita sadari bahwa kehidupan
ini sangat membutuhkan pemahaman yang mendalam bukan sekadar berlogika atau
mempunyai pemahaman intelektual semata. Alangkah baiknya dibutuhkan pemahaman
emosional dan rasional/logika yang seimbang. Mengapa demikian? Sebab, kehidupan
manusia akan dihadapkan pada kebenaran hakiki seperti usia tua, kesakitan dan
kematian.
Tanpa
pemahaman yang seimbang (antara emosi dan rasional), kita akan menjadi BUTA.
Efeknya adalah mudah gelisah, sedih, resah dsb.
Di
samping itu pula, KEBAIKAN perlu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Kebaikan ini sangat penting dan memiliki potensi untuk tidak memunculkan
perbuatan buruk. Tatkala ketika kita meninggal, kebaikan yang telah kita
perbuat akan menjadi pendorong serta mengkondisikan gambaran pikiran menjadi
baik saat meninggal. Jadi, jangan sia-siakan waktu dan kesempatan dalam
KEBAIKAN.
Mettacittena/Upa
ETIKA HIDUP DAN KEBAIKAN!!!
Manusia
pada dasarnya memiliki etika. Waktu kita di SD, guru telah mengajarkan tentang PPKN,
yang di dalamnya mengajarkan kesopanan, tata krama, aturan, dan disiplin diri.
Moral ini adalah sebuah benteng yang melandasi perilaku manusia dari sifat yang
buruk. Tatkala tidak menjalankan aturan maka semua landasan kebaikan akan
dilanggar. Tanpa nilai-nilai moral, kehidupan akan berada dalam bahaya. Namun,
kita manusia yang belum sempurna hendaknya selalu mengembangkan moralitas dengan
benar.
Menjadi
orang baik dan mempertahankan kebaikan yang telah diperoleh sangatlah sulit
dibandingkan melakukan tindakan kriminal. Melakukan kebaikan dibutuhkan seorang
pembimbing dan melakukan keburukan tanpa guru bisa jadi dan murka.
Dimanakah
orang baik itu?
Kebiasaan
baik sangat sulit dilakukan, kebiasaan buruk sangat mudah dilakukan. Kebaisaan
baik walaupun sulit, ia selalu menemani kita kemana kita akan pergi (sahabat
sejati), kebiasaan buruk sungguh mudah dilakukan namun sungguh sulit menjadi teman
baik kita.
Orang
baik sesungguhnya tidak ada diluar diri kita tetapi orang baik ada di dalam
diri kita.
Apa
sesungguhnya yang harus kita lakukan dalam hidup ini?
Tiada
lain yang harus kita jalankan adalah mengembangkan kebiasaan baik. Bisa dengan
cara beramal, sharing dhamma, mendengarkan dhammadesana, menjalankan uposatha
sila dan selalu menjernihkan pikiran sendiri.
selalu
berusaha mengendalikan diri dari sifat buruk dalam kehidupan sehari-hari sebab
memiliki pengendalian seperti membuat pagar untuk melindungi rumah kita dari
ancaman pencurian dan perampokan.
Mettacittena/UpaJ
Minggu, 26 Januari 2014
DHAMMACAKKAPPAVATTANA SUTTA
Khotbah Pemutaran Roda Dhamma
Samyutta Nikaya LVI:11
1. Dibabarkan oleh sang Buddha di Taman Rusa, Isipatana, Kota Benares, kepada 5 orang pertapa : Assajji, Vappa, Bhadiya, Kondanna, Mahanama
2. Ada dua hal ekstrim yang patut ditinggalkan, yaitu:
F Mengikuti kesenangan nafsu
F Melakukan penyiksaan diri
3.
Kedua hal ekstrim di atas dihindari, dan digantikan dengan Jalan tengah (Majjhima Patipada), yaitu Jalan Mulia Berunsur Delapan (Ariyo Atthangiko Maggo):
F Samma ditthi (berpengertian benar)
F Samma sankappo (berpikiran benar)
F Samma vaca (berkata benar)
F Samma kammanto (bertindak benar)
F Samma ajivo (berpenghidupan benar)
F Samma vayamo (berupaya benar)
F Samma sati (berperhatian benar)
F Samma samadhi (berkonsentrasi benar)
Jumat, 24 Januari 2014
Kata-kata Motivasi dan inspiratif
Selama kita
mau untuk maju,
Apapun itu
bentuknya, selama kita mau berusaha dan bersabar
Impian kita
pasti bisa terwujud
[Hendra]
Prinsip yang
kokoh adalah tidak memiliki cara berpikir plin plan.
Selalu berdisiplin, dan melihat tujuan yang sebenarnya.
[Hendra]
Ingat budi
baik orang yang berjasa
Tat kala
kita susah senang, mereka selalu ada di dekat kita
Itulah sikap
orang yang ‘TAHU DIRI’.
[Hendra]
Kebanggaan terbesar
dalam hidup adalah tercapai cita-cita
Tidak ada
perkelahian/pertengkaran adalah kedamaian.
[Hendra]
Jumat, 03 Januari 2014
Lima Macam Vassi dan Abhiñña
Lima Macam Vassi
Vasi
berarti keahlian atau kemahiran atau kemampuan untuk mengolah jhana.
Kelima macam vasi tersebut adalah:
1. Avajjana-vasi,
yaitu keahlian dalam pemikiran untuk memasuki jhana menurut kehendaknya
2.
Samaajjana-vasi,
yaitu keahlian dalam memasuki jhana
3. Adhitthana-vasi,
yaitu keahlian dalam menentukan berapa lama hendak berada dalam jhana.
4.
Vatthana-vasi
yaitu, keahlian dalam keluar dari jhana.
5.
Paccavekkhana-vasi,
yaitu keahlian dalam peninjauan terhadap jhana.
Jhana
Jhana
berarti kesadaran atau pikiran yang memusat dan melekat kuat pada objek.
Ada juga istilah lain, kammathana/meditasi,
yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi pada objek dengan kekuatan
appana-samadhi (konsentrasi yang mantap, yaitu kesadaran/pikiran terkonsentrasi
pada objek dengan kuat).
Faktor-faktor jhana
Faktor-faktor
jhana ada lima macam
1.
Vittaka,
ialah penopang pikiran yang merupakan perenungan permulaan untuk memegang
objek.
2.
Vicara,
ialah gema pikiran, keadaan pikiran dalam memegang objek dengan kuat.
3.
Piti,
ialah kegiuran atau kenikmatan.
4.
Sukha,
ialah kebahagiaan yang tidak terhingga.
5.
Ekaggata,
ialah pemusatan pikiran yang kuat.
Langganan:
Postingan (Atom)